Video ini bagian dari podcast “Sambung Sedulur” dari BBGTK Provinsi Jawa Tengah yang membahas miskonsepsi seputar pendekatan pembelajaran mendalam. Dipandu oleh Verantika Arum Aprilia, podcast ini menghadirkan dua narasumber: Bapak Drs Yuli Cahyono, M.Pd (Widya Iswara BBGTK Jawa Tengah) dan Ibu Dina Sintauesni, S.Pd, M.Pd (Pengawas SMK dan Fasilitator Pembelajaran Mendalam) .
Berikut adalah poin-poin utama dari diskusi tersebut:
1. Apa Itu Pembelajaran Mendalam?
Pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum atau metode baru, melainkan sebuah pendekatan. Esensinya adalah mengubah peran guru dari “mengajar” (seringkali ceramah) menjadi “menuntun”. Tujuannya adalah agar siswa dapat memahami dan memaknai materi pelajaran, bukan sekadar menghafal rumus atau fakta .
Pak Yuli memberikan contoh pengajaran simple present tense dalam bahasa Inggris. Tidak cukup hanya hafal rumus , siswa perlu mengaplikasikannya (misalnya, menceritakan aktivitas sehari-hari) dan melakukan refleksi atas penggunaannya agar pembelajaran itu bermakna.
2. Tiga Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam
Pendekatan ini berfokus pada tiga prinsip :
- Bermakna: Pembelajaran harus memiliki makna dan menjadi bekal bagi siswa di masa depan, baik untuk studi lanjut maupun dunia kerja.
- Berkesadaran: Siswa sadar bahwa apa yang dipelajari terhubung dengan dunia nyata mereka. Ini ditumbuhkan melalui refleksi dan menghubungkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari.
- Menggembirakan: Ini bukan hanya tentang ice breaking . Lingkungan belajar yang “menggembirakan” adalah saat guru menggunakan strategi yang sesuai dengan karakter siswa, membuat mereka merasa terhubung dan asyik dengan pelajarannya (misalnya, mengaitkan materi dengan game untuk siswa SMK).
3. Pentingnya Lingkungan Belajar
Lingkungan belajar yang mendukung sangat krusial dan mencakup tiga aspek:
- Fisik: Kenyamanan ruang kelas, pencahayaan, atau bahkan fleksibilitas untuk belajar di luar kelas seperti taman sekolah.
- Teknologi: Pemanfaatan teknologi seperti Google Forms, Kahoot, atau Quisis untuk membuat asesmen dan pembelajaran lebih nyaman dan interaktif.
- Budaya: Menciptakan rasa aman secara psikologis (psychological safety). Ini adalah budaya sekolah di mana siswa merasa dihargai, diapresiasi, dimotivasi, dan tidak disalahkan ketika membuat kesalahan.
4. Miskonsepsi yang Terjadi di Lapangan
Ibu Dina menyoroti bahwa masih banyak yang menganggap pendekatan ini hanyalah “ganti menteri, ganti kebijakan” atau sekadar perubahan administrasi baru. Pak Yuli meluruskan bahwa ini adalah sebuah transformasi pendidikan yang diperlukan untuk mengatasi masalah nyata seperti learning loss dan fenomena schooling without learning (sekolah tanpa pembelajaran).
5. Poin-Poin dari Sesi Tanya Jawab
- Mengukur Prinsip: Prinsip-prinsip ini tidak bisa diukur dalam waktu singkat. Ini adalah “perjalanan panjang” (a long journey). Cara mengukurnya adalah melalui refleksi yang konsisten (misalnya dengan metode 4P/4F) dan mengamati perubahan perilaku siswa dari waktu ke waktu.
- Belajar Nyaman di SMK: Kuncinya adalah mengenali karakteristik siswa. Guru harus berani mencoba hal baru (growth mindset) dan menggunakan metode yang kontekstual dengan dunia mereka, seperti membuat video TikTok atau mengaitkan materi dengan kejuruan mereka.
- Kelas Kinestetik: Jika siswa di kelas dominan kinestetik, guru harus mengurangi ceramah. Perbanyak aktivitas di bagian “aplikasi”, seperti simulasi, role play, diskusi kelompok, dan peer review . Guru berperan sebagai fasilitator yang memandu dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot.